Ramalan Perjodohan

"Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog ini Maaf Bila Masih Ada Kesalahan Dalam Blog ini Karna Blog ini Masih Dalam Prosses Pembuatan"

Rabu, 29 September 2010

7 Mahasiswa Hilang di Gunung Salak

Jakarta – Untuk mempercepat pencarian 6 orang yang hilang, pecinta alam Tribuana dari Universitas Yarsi mengirimkan Tim SAR gelombang 3. Tim ini diturunkan untuk membantu dua tim yang sudah diterjunkan sebelumnya.

“Tim akan terdiri dari tujuh orang, membawa peralatan dan logistik,” kata Zion, Humas pencinta alam Tribuana, Universitas Yarsi, kepada wartawan, Senin (2/2/2009).

Menurut Zion, saat ini anggota dari Tim SAR gelombang 3 tengah dipersiapkan untuk mem-back up Tim 1 dan dan Tim 2 yang sudah diterjunkan terlebih dahulu ke lokasi. Hingga pukul 20.00 WIB, ketujuh orang yang akan diberangkatkan sedang bersiap-siap membereskan perlengkapannya.

“Saat ini kami sedang kerjakan. Mudah-mudahan segera diberangkatkan,” kata Zion.
“Tim 3 ini akan berangkat menuju ke Cimelati untuk nanti berkorrdinasi dengan tim yang sudah ada disana,” imbuhnya.

Tujuh mahasiswa Universitas Yarsi hilang saat mendaki Gunung Salak, Jawa Barat, pada hari Minggu, 1 Januari. Mereka adalah 5 mahasiswa Fakultas Kedokteran, 1 mahasiswa Fakultas Hukum, dan 1 alumni Fakultas Teknik Informatika. Hingga saat ini baru satu orang yang ditemukan.

Sukabumi – Tim SAR menemukan salah seorang dari 7 mahasiswa Yarsi yang diduga hilang di Gunung Salak. Mahasiswa yang ditemukan itu bernama Trias Mujahid. Ia ditemukan di puncak Gunung Salak 1.

Demikian disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Bambang Sofianto kepada wartawan di Posko 1 Murbey, Gunung Salak 1, Sukabumi, Jawa Barat, Senin (2/2/2009).

Dari laporan Tim SAR 1 lewat SMS yang diterima Bambang, Trias ditemukan sekitar pukul 16.00 WIB. Disebutkan kondisi Trias baik. Tapi seperti apa detailnya, Bambang belum mengetahuinya.

“Saya belum tahu persis kondisi korban saat ini bagaimana. Karena saya baru mendapatkan kabar melalui layanan SMS. Namun kondisinya baik-baik,” katanya.

Ciri-ciri Trias yakni tinggi 165 cm, berkulit putih, berambut lurus pendek. Pada saat ditemukan, perbekalan Trias sudah habis. Alas kaki atau sandalnya rusak.

7 personel Tim SAR tambahan kembali naik ke puncak Gunung Salak 1 untuk melanjutkan pencarian. Cuaca di lokasi pendakian saat ini mengalami hujan deras dan berkabut tebal. (gus/iy)

Sukabumi – Trias Mujahid, salah satu mahasiswa Yarsi yang hilang di Gunung Salak berhasil ditemukan tim SAR dalam keadaan selamat. Namun karena cuaca buruk, Trias masih belum bisa dievakuasi dari lokasi penemuan.

Hal tersebut diungkapkan Bambang Sofyanto, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, di posko Murbey, Desa Cimalati, Sukabumi, Jawa Barat, Senin (2/2/2009).
“Trias belum bisa dibawa turun oleh Tim SAR karena cuaca sangat buruk. Saat ini di sana hujan deras dan kabut tebal,” kata Bambang.

Trias ditemukan di puncak satu Gunung Salak oleh Tim SAR. Kondisi pemuda tersebut dilaporkan dalam keadaan baik. “Dia hanya kekurangan bahan makanan,” ungkap Bambang.

Trias dan 6 orang temannya melakukan pendakian pada Sabtu 31 Januari 2008. Namun sampai minggu malam keduanya belum kembali. Padahal para mahasiswa ini hanya membawa perbekalan untuk dua hari. Hingga saat ini, nasib 6 orang mahasiswa lainnya masih belum diketahui.
Baca selengkapnya Tio Blog: 01/09/10

2006-2009, Enam Peristiwa Hilangnya Pendaki Gunung

JAKARTA – Mendaki gunung menjadi kepuasan tak terhingga bagi yang memang beraktivitas sebagai pegiat alam. Kebanyakan penggemar hobi ini adalah mahasisiswa. Tercatat, sejak 2006 hingga 2009, enam kejadian pendaki hilang telah terjadi.

Pada 2006 tercatat dua orang mahasiswa hilang saat mendaki gunung. Yakni mahasiswa Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, bernama Vincen (21) dinyatakan hilang di pegunungan Argopuro, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Dia mendaki sejak 21 Januari 2006 dan 27 Januari 2006 ditemukan tas carier miliknya di daerah Cisentor, pegunungan Argopuro.

Kemudian, Dian Susanto, mahasiswa D3 Universitas Jember (Unej) Jawa Timur Jurusan Administrasi Keuangan Fakultas Ekonomi angkatan 2004 dinyatakan hilang sejak 22 November 2006 saat mendaki Gunung Semeru.

Pada 2007, tiga orang mahasiswa STIE Bandung (Universitas Widyatama) hilang sejak 26 Desember 2007 di Gunung Agung, Bali. Mereka adalah Muhammad Iqbal (21) Eko Saputro Sudirman (21), dan Yunita Indah Safitri (20). Ketiganya berasal dari bandung.

Namun pada 6 Januari 2008, salah satu korban yakni Iqbal ditemukan. Berdasarkan peta, jenazah Iqbal ditemukan pada titik koordinat 08 derajat 20 menit 40 detik LS dan 115 derajat 20 menit 33 detik BT. Sedangkan dua lainnya belum ditemukan.

Lalu dua mahasiswa Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta, Marcus Fernando (29) dan Rico (30) dilaporkan hilang di Gunung Semeru sejak Kamis 7 Juni 2007. Keduanya diduga tersesat di kawasan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Melangkah ke 2008. tiga mahasiwa Universitas Brawijaya Malang (Unibraw) yakni Wawan asal Batu-Malang, Iwan Sugiono asal Madiun dan Sugeng asal Lumajang hilang di Gunung Semeru pada Maret 2008. Ketiganya merupakan mahasiswa jurusan Perikanan angkatan 2002.

Namun belakangan diketahui, ternyata ketiganya tidak hilang. Melainkan, hanya Rahmatullah saja yang sempat hilang, namun ditemukan kembali.

Saat ini, di bulan kedua tahun 2009, tujuh mahasiswa Universitas Yarsi Jakarta dikabarkan hilang saat mendaki Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat. Ketujuh mahasiswa tersebut adalah Sofyan (22), Reza (21), Hengki (22), Rizki (18), Kiki (18), Tika (18), dan Tias (18).(lsi)
Baca selengkapnya Tio Blog: 01/09/10

Misteri Gunung Salak

Gunung Salak memang tidak setinggi Gunung Gede, tetangganya. Namun tingkat kesulitan yang dimiliki Gunung Salak begitu angker untuk didaki. Termasuk keberadaan Kawah Ratu yang ada di wilayahnya.

Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur, yakni jalur Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, Wana Wisata Curug Pilung, Cimelati, Pasir Rengit dan Ciawi. Belum lagi jalur-jalur tidak resmi yang dibuka para pendaki ataupun masyarakat sekitar.

Banyaknya jalur menuju puncak Gunung Salak dan saling bersimpangan tentu membingungkan para pendaki. Banyak diantaranya yang kemudian tersasar dan menghilang.

Banyaknya jalur pendakian banyak pula mitos atau kisah yang menyelimuti Gunung Salak. Selain kawasan ini dianggap suci bagi kalangan masyarakat Sunda wiwitan karena dianggap sebagai tempat terakhir Prabu Siliwangi.

Lokasi ini ternyata juga disebut banyak menyimpan harta karun peninggalan Belanda. Harta itu berupa emas murni yang dimasukan di dalam peti. Dan peti-peti itu kemudian dikubur di empat titik terpisah di area Gunung Salak.

Harta tersebut sengaja di kubur VOC, karena takut diambil tentara Jepang yang masuk ke Indonesia 1942. “Mereka (VOC) takut emas-emas yang mereka kumpulkan direbut Jepang yang waktu itu berusaha mengusir Belanda dari Indonesia,” ujar tokoh masyarakat Cidahu, Sukabumi.

Setelah sukses menguburnya, mereka kemudian membuat peta penunjuk arah yang disertai tanda-tanda fisik lokasi. Waktu itu VOC berharap ketika mereka datang lagi ke Indonesia harta yang disimpan bisa diambil kembali.

Tapi kenyataanya setelah Jepang keluar, Indonesia kemudian merdeka tahun 1945. Akhirnya serdadu Belanda dan VOC tidak bisa masuk lagi ke Indonesia. Tentu saja harta-harta yang dikubur itu tidak bisa diambil kembali.

Kabar tentang adanya harta timbunan itu di Gunung Salak sempat beredar tahun 1953. Waktu itu, sejumlah warga Cidahu mendengar kalau harta karun itu di kubur di wilayah kaki Gunung Salak tersebut. Info yang mereka terima tanda fisik tempat penyimpanan harta itu adalah tembok yang tebalnya 120 centimeter persegi.

Ada lagi yang mengatakan kalau disekitar Kawah Ratu ada juga harta yang ditimbun. Alhasil, karena kabar tersebut, hampir seluruh warga Cidahu beramai-ramai mencarinya. Setiap ada tembok sisa peninggalan Belanda mereka hancurkan. Dalam beberapa bulan, tembok sisa pembatas perkebunan milik Belanda dengan penduduk pribumi saat itu, langsung ludes menjadi puing.

Sementara warga yang coba mencari harta itu di sekitar Kawah Ratu banyak yang tewas karena menghadapi medan yang berat di Gunung Salak. Arwah-arwah inilah yang kabarnya bergentayangan di sekitar Kawah Ratu.

Kini kabar harta itu kemudian muncul kembali pertengahan 2006 lalu. Bajari saat sedang menunggu warung miliknya, didatangi tiga pria. Mereka mengaku berasal dari Jakarta. Bahkan salah satu diantaranya mengaku salah seorang cucu soekarno dari Guntur, anak sulung Soekarno.

Tiga pria itu menanyakan tentang beberapa tanda fisik, yang katanya tempat penyimpanan harta karun yang sempat menghebohkan warga Cidahu 1953 lalu. Tanda-tanda fisik yang tertera di peta adalah berupa aliran sungai, pohon bambu, pohon damar dan sebuah tembok berukuran 120 centimeter persegi.

Namun oleh Bajari dikatakan tanda-tanda yang tertera di peta sudah tidak ada lagi. Ukuran wilayah yang tertera di peta tersebut juga sudah banyak yang bergeser sehingga sulit untuk melacaknya.

Menurut pengakuannya Bajari di sekitar Gunung Salak memang banyak harta yang ditanam oleh para pengusaha asal Belanda yang kabur sebelum pendudukan Jepang ke Indonesia. Alhasil kisah emas VOC membuat Gunung Salak semakin misterius.

Hayo, siapa yg mau berburu harta? Nyawa taruhannya.
Baca selengkapnya Tio Blog: 01/09/10